Berapa
cepatkah cahaya berjalan? Galileo menanyakan pertanyaan ini pa da dirinya
sendiri dan dia telah mencoba menjawabnya secara experimental dalam bukunya,
Dua Ilmu Pengetahuan Baru (1638), yang ditulis dalam bentuk percakapan di antara
tiga orang yang bernama Salviati, Sagredo, dan Simplicio. Berikut ini sedikit
cuplikan percakapan perihal laju reaksi dalam buku tersebut :
Simplicio : pengalaman
setiap hari memerlihatkan bahwa penjalaran cahaya adalah sesaat, karena bila
kita melihat sepotong artileri yang ditembakkan pada suatu jarak jauh, maka
cahayanya akan mencapai mata kita tanpa selang waktu, tetapi bunyinya akan
mencapai kuping kita hanya setelah interval waktu.
Sagredo : baiklah
simplicio, satu-satunya hal yang dapat saya simpulkan dari pengalamn kecil ini
adalah bahwa bunyi di dalam mencapai telinga kita, berjalan lebih lambat dari
pada cahaya. Pengalaman tersebut tidak memberitahukan kepada saya, apakah
datangnya cahaya adalah sesaat atau apakah, datangya cahaya sesaat atau apakah,
walaupun sangat cepat sekali, datanya cahaya memerlukan waktu……….
Salviati : yang
berbicara dengan suara Galileo, kemudian menjelaskan sebuah metode yang mungkin
untuk mengukur laju cahaya. Pada malam hari, dia dan seorang pembantunya
berdiri dan saling berhadapan dan mempunyai jarak yang tertentu terhadap satu
sama lain. Masing-masing membawa sebuah lentera yang dapat ditutup dan dibuka.
Galileo memulai eksperimen tersebut dengan membuka lenteranya. Bila cahaya
telah mencapai sang pembantu, maka pembantu tersebut membukakan lenteranya,
maka cahayanya dilihat oleh Galileo. Galileo mencoba mengukur waktu di antara
saat dia membuka lenteranya sendiri dan cahaya dari lentera pembantunya mencapai
dia. Tetapi metode tersebut ternyata gagal.
Pada
tahun 1675, OleRoemer, sarjana Astronomi Denmark mendapatkan laju cahaya
2
x 108 m/det. Kemudian, kira-kira tahun 1725, James Bradley seorang
sarjana Astronomi Inggris mendapatkan laju cahaya kira-kira 3 x 108
m/det. Pada tahun 1849, Hippolyte Louis Fizeau seorang Fisikawan Perancis
mendapatkan laju reaksi sebesar 3,13 x
108 m/det. Tahun 1926, Michelson dari Amerika mendapatkan laju
cahaya 2,998 x 108 m/det. Inilah sekelumit tentang sejarah
pengukuran laju cahaya.
Laju cahaya menurut standar
internasional yang telah ditentukan oleh berbagai instansi adalah sebagai
berikut. Menurut US National Bureau of Standards, C = 299792.4574 + 0.0011
km/det; The British National Physical Laboratory, C = 299792.4590 + 0.0008
km/det; Konferensi ke-17, penetapan ukuran dan berat standard “satu meter
adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacuum selama jangka waktu 1/299792458
detik.”
Sekarang, ternyata kita bisa
menghitung laju cahaya dengan tepat berdasarkan informasidari Al-Qur’an yang
diturunkan 14 abad silam. Perhitungan ini ditemukan oleh ahli fisika asal
Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby. Dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 5 :
“Dialah Allah
yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkannya
tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan
perhitungan (waktu).”
Kemudian dalam Surat Al-Anbiya’:
33, Allah kembali menegaskan :
“Dialah yang
menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing beredar dalam
garis edarnya.”
Begitu pula dalam Al-Qur’an
Surat As-Sajadah ayat 5 :
“Dia mengatur
urusan dari langit ke bumi , kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu
hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Berdasarkan
ayat tersebut, khususnya surat As-Sajadah ayat 5, dapat disimpulkan bahwa jarak
yang dicapai sang urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan
selama 1000 tahun atau 12000 bulan. C.t = 12000 L
Dimana : C =
Kecepatan sang urusan
t = Waktu selama satu hari
L = Panjang rute edar bulan
selama satu bulan
Berbagai
sistem kalender telah diuji, namun sistem kalender bulan sidereal menghasilkan
nilai C sama persis dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran. Ada
dua sistem kalender bulan :
Ø Sistem sinodik didasarkan atas
penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi.
1 hari =
24 jam
1 bulan =
29.53059 hari
Ø Sistem sidereal didasarkan atas
pergerakan relative bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta.
1hari =
23 jam 56 menit 4.0906 detik
=
86164.0906 detik
Ada
dua tipe kecepatan bulan
Ø Kecepatan relative terhadap
bumi
Dihitung dengan rumus Ve = 2 
Dimana : R = jari-jari revolusi bulan =384264 km
T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam
Jadi Ve = 2 * 3.14162 *
384264 / 655.71986
= 3682.07 km/jam
Ø Kecepatan relative terhadap
bintang atau alam semesta, Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini
dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan
cosinus α
V = Ve * cos α
Dimana α
adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi
bumi selama satu bulan sidereal. α = 26.92848o
Jadi : C.t = 12000 L
=
12000 v.T
=
12000 ( Ve * cos ) T
C = 12000 ( Ve * cos ) T/t
=
12000*3682.07*0.89157*655.71986/86164.0906
=
299792.5 km/det.
Dari perhitungan di atas, nilai
laju cahaya apabila dibandingkan dengan nilai yang sudah diketahui menunjukkan
sangat tepat sehingga dapat disimpulkan bahwa ternya Al-Qur’an juga dapat
memberikan petunjuk terkait dengan laju cahaya. Oleh karenanya, kajian secara
serius dan konsisten tehadap Al-Qur’an ke depan diharapkan mampu menghasilkan
ide-ide baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Minggu, Februari 19, 2012
RaiHana_eLHawa



0 komentar:
Posting Komentar